"Lailaa.. Lailaa.. Lailaa...

It's about having my mind busy with you
and no one else..."

Jalaluddin Rumi; Berbicara tentang pencapaian hubungan erat dengan berbagai agama dan reaksinya

Berikut ini adalah puisi dimana Rumi berbicara tentang pencapaian hubungan erat dengan berbagai agama dan reaksinya terhadap agama-agama itu:

Salib orang-orang Kristiani, dari ujung ke ujung
telah aku kaji. Dia tidak ada di salib itu.
Aku telah pergi ke kuil Hindu, ke pagoda tua.
Di tempat-tempat itu tidak ada tanda-tandanya.
Aku pergi ke dataran tinggi Herat dan Kandahar.
Aku melihat, Dia tidak ada di dataran tinggi maupun rendah.
Dengan hati yang mantap, aku pergi ke puncak gunung Kaf.
Di sana hanya ada sarang burung 'Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah. Dia tidak ada di sana.
Aku bertanya kepada Ibnu Sina tentangnya:
Dia di luar jangkauan filosuf ini ...
Aku melihat ke dalam qalbuku sendiri.
Di situlah tempatnya, Aku melihatnya.
Dia tidak di tempat lain ...

Kata ganti "dia" di sini maksudnya adalah realitas sejati. Sufi adalah abadi.

Penggunaan kata-kata seperti "kemabukan" atau "anggur" maupun "hati" adalah penting, namun paling jauh hanya untuk mendekati realitas sejati itu dengan menggunakan suatu parodi. Sebagaimana Rumi menyatakannya:

Sebelum kebun, tanaman dan buah anggur tercipta di dunia ini,
Jiwa kami telah mabuk dengan anggur abadi.

2 komentar:

  1. Aku bisa mengambil tiga pelajaran dari puisi Tuan Rumi
    1 Tentang gaya bahasa
    2 Tentang filsafat
    3 Tentang keberadaan. waAllahua'lam:)

    Ditunggu postingan-postingan Tuan Rumi yang lain.
    Nice posting:)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah klo anda bisa mengambil pelajaran dri puisi Maulana Rumi ini :D

    Insya Allah, saya bakal posting lg yg mengenai puisi2 Maulana Rumi :)

    BalasHapus

Please be kind and polite to comment, et Merci pour commenter... :D