"Lailaa.. Lailaa.. Lailaa...

It's about having my mind busy with you
and no one else..."

Profile

Salam Sejarawan...
Sedemikian penting sejarah bagi kita, karena ia menyuguhkan hukum keserupaan (qanun at-tamatsul). Bahwa umat manusia kapan dan dimanapun memiliki watak dan tabiat yang sama. “Demikianlah fitrah Allah yang telah ia ciptakan untuk manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan dalam ciptaan Allah," (QS. Ar-Ruum: 30). Maka suatu sebab yang telah mengakibatkan peristiwa histories, akan membuat peristiwa yang sama jika sebab itu ada pada hari ini. Mustahil sebab yang sama kemudian mengakibatkan peristiwa yang berbeda.

Panggil Saya Sejarawan Muda...!!!!
Abid d’AndaluCia atau yang memiliki nama asli Abid Abal Qosim Muhammad Akrom Ali al-Ismaily ini dilahirkan di Cirebon, Jawa Barat. Dia pernah mengenyam pendidikan di  TK Al-Washliyah, Sumber - Cirebon, ketika itu dia masih mengikuti kedua orang tuanya bekerja di rumah dinas SEKDA kota Cirebon pada masanya Alm. Bpk H. Sutisna, SH pada tahun 1996-1997. Setelah lulus TK dia akhirnya pulang kampung ke Desa Pabedilan Wetan, Kec. Pabedilan, Ciledug - Cirebon, karena memang Abid asli orang Ciledug. kemudian Abid meneruskan jenjang pendidikannya di SDN II Pabedilan Kaler. 

 Dan setelah lulus Sekolah Dasar Abid pun mengikuti pamannya pergi ke Kota Cirebon untuk yang kedua kalinya, akan tetapi dia tidak tinggak di Sumber, dia tinggal di kostan bersama pamannya dan meneruskan jenjang pendidikan tingkat SMPnya di  MTs Negeri I Kota Cirebon. Setelah mengikuti Ujian Nasional (UN) di MTs N I Kota Cirebon, akhirnya Abid dinyatakan lulus dari sekolah tersebut. 

"Expert in the study of the Philosophy of History, 
The Ottoman Empire; History and Civilization 
and The Andalusian History From the Beginning 
Untill the End of Granada"

Karena sudah merasa bosan dengan lingkungan yang sudah "tidak bersahabat" lagi maka dengan seizin Allah SWT Abid memilih Mesir untuk melanjutkan study tingkat SMAnya di Al-Azhar High School in Cairo for International Student, Egypt. Dan di tempat inilah Abid berhasil membuat sejarah baru untuk dirinya sendiri, yaitu melewati jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atasnya hanya dalam kurun waktu dua tahun. Dan sekarang masih melanjutkan studinya di Universitas Al-Azhar Fakultas Usuluddin (Faculty of Islamic Theology), Cairo – Egypt. Tapi, setelah tau akhirnya Abid menyadari bahwas dirinya telah salah masuk fakultas, seharusnya dia masuk ke Fakultas Bahasa Arab jurusan Sejarah dan Peradaban (Faculty of Arabic Language, Dept. History and Civilization). 

Pendidikan di pondok pesantren, dia tempuh di PP Nurushiddiq Cirebon, ketika dia menginjak kelas 2 MTs sampai lulus MTs.
Apa cerita panjang yang akan kau persingkat..???
Dari kecil dia pernah mempunyai cita-cita yang tidak kalah hebat, dia pernah ingin menjadi pilot, akan tetapi suatu ketika dia pernah bertanya kepada ibundanya yaitu Hj Eti Kareti; "Mah, besar nanti aku mau jadi pilot, tapi bagaimana jadinya nanti kalau bahan bakar pesawatnya habis di udara...???", dan si ibu pun tidak bisa menjawab, dan itulah yang membatalkan Abid menjadi pilot. Kemudian anak kecil yang beranjak dewasa ini mempunyai cita-cita yang lain, yaitu sebagai seorang yang ahli dalam elektronik. dari alat- alat rusak  yang kecil sampai yang besar dia telah mencoba memperbaikinya, seperti kipas angin, blender, radio, dinao dan akhirnya sangat memuaskan. Tapi, nasib berkata lain, dan Allah pun belum mengizinkannya untuk menjadi ahli elektronik, dan sekarang dia lebih memilih menjadi Sejarawan. 

Ya sebagai "Sejarawan Muda", sejarahlah yang telah merubah apa yang ada dalam dirinya, entah kenapa dan apa yang telah membuat dia suka kepada sejarah..??, dia suka dengan sejarah ketika dia duduk di bangku kelas 3 SD, dan katanya: "sejarahku adalah masa depanku..." dan "barang siapa yang tidak menghormati sejarah, maka masa depan tidak akan menghormatinya". Nah, disini bisa di ambil kesimpulan mengapa Abid menyukai sejarah... 

Suatu ketika sang Ibunda pun berpesan kepadanya: "Jangan pernah pulang ke tanah air..!!! jangan pernah pulang sebelum kamu pergi ke Andalusia (Spanyol, Portugal) dan Prancis, masalah mati itu pasti, biarlah Allah yang akan mempertemukan kita di surga nanti..."

Kehidupannya yang lain sangatlah sederhana dan tidak susah untuk menggambarkan “scenario kehidupannya” karena dia bukan anak seorang pejabat ataupun anak konglomerat, tapi dia cuma anak seorang buruh miskin. Dan pekerjaan orangtua-nya inilah yang membuat dia harus berpindah-pindah tempat dalam menjalani kehidupannya ini.