Siapa yang berperilaku sesuai dengan perkataannya,
dialah yang tercerahkan, yang menolak
hubungan-hubungan biasa dari dunia
(Dzun-Nun al-Mishri)
dialah yang tercerahkan, yang menolak
hubungan-hubungan biasa dari dunia
(Dzun-Nun al-Mishri)

Ia juga tidak harus membaca kitab-kitab teologi dan tafsir untuk membandingkan satu ajaran dengan ajaran lainnya. "Perjalanannya" dan "pengujiannya" terhadap gagasan-gagasan lain terjadi dalam dirinya. Hal ini karena Sufi percaya bahwa setiap orang mengalami sesuatu yang lain, ia memiliki pandangan batin yang mampu mengukur realitas dari ketentuan agama yang ada.
Tegasnya, akan sangat berat dan tidak berguna untuk mendekati suatu persoalan metafisis dengan menggunakan metode penelitian biasa. Seseorang yang bertanya, "Apakah Anda telah membaca buku tentang ini dan itu, karangan si Anu dan si Fulan?" niscaya akan menggunakan pendekatan keliru. Bukanlah buku atau pengarangnya, tetapi realitas buku dan penulis yang ingin disampaikan itulah yang penting bagi seorang Sufi. Untuk memperoleh pemahaman tentang seseorang atau ajarannya, seorang Sufi hanya membutuhkan sebuah contoh. Tetapi contoh ini harus akurat. Dengan kata lain, ia harus ditempatkan dalam hubungan erat dengan faktor esensial dalam pengajaran yang terkait.
Berikut ini adalah puisi dimana Jalaluddin Rumi berbicara tentang pencapaian hubungan erat dengan berbagai agama dan reaksinya terhadap agama-agama itu:
Salib orang-orang Kristiani, dari ujung ke ujung
telah aku kaji. Dia tidak ada di salib itu…
Aku telah pergi ke kuil Hindu, ke pagoda tua.
Di tempat-tempat itu tidak ada tanda-tandanya.
Aku pergi ke dataran tinggi Herat dan Kandahar.
Aku melihat…
Dia tidak ada di dataran tinggi maupun rendah.
Dengan hati yang mantap, aku pergi ke puncak gunung Kaf.
Di sana hanya ada sarang burung 'Anqa.
Aku pergi ke Ka'bah. Dia tidak ada di sana.
Aku bertanya kepada Ibnu Sina tentangnya:
Dia di luar jangkauan filosuf ini...
Aku melihat ke dalam qalbuku sendiri.
Di situlah tempatnya, Aku melihatnya.
Dia tidak di tempat lain ...
Kata ganti "Dia" di sini maksudnya adalah realitas sejati. Sufi adalah abadi. Penggunaan kata-kata seperti "kemabukan" atau "anggur" maupun "hati" adalah penting, namun paling jauh hanya untuk mendekati realitas sejati itu dengan menggunakan suatu parodi. Sebagaimana Jalaluddin Rumi menyatakannya:
Sebelum kebun, tanaman dan buah anggur tercipta di dunia ini,
Jiwa kami telah mabuk dengan anggur abadi.
Seorang Sufi mungkin terpaksa menggunakan perumpamaan dari dunia yang dikenal pada jenjang awal penyampaian, tetapi Rumi mengikuti standar rumusan seorang Sufi dengan sangat ketat. Tongkat penyangga harus dibuang jika si pasien sudah mampu berjalan sendiri. Nilai dari cara ekspresi Rumi bagi murid adalah fakta bahwa ia menjadikan hal ini jauh lebih jelas dari semua bahan yang tersedia di luar madrasah-madrasah Sufi. Jika Tarekat tertentu telah terbiasa mengkondisikan para pengikutnya secara literal dengan menggunakan perangsang secara berulang-ulang, menandai waktu pada jenjang perkembangan tertentu, mempertahankan kebutuhan murid kepada "tongkat penyangga", tentu saja ini bukan kesalahan Rumi.
* Dari Kitab As-Shufiyyun Karya Idris Shah, terjemah dari bahasa Persia ke bahasa Arab oleh Bayumi Qandhil.
* Dari Kitab As-Shufiyyun Karya Idris Shah, terjemah dari bahasa Persia ke bahasa Arab oleh Bayumi Qandhil.