"Lailaa.. Lailaa.. Lailaa...

It's about having my mind busy with you
and no one else..."

DIALOG ANTARA SYEIKH DR. RAMADHAN AL-BUTI DENGAN SYEIKH ALBANI

Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah wal Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari Yordania.

Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?”
Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?”

Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?”

Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitab-kitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.”

Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.

Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?”

Al-Albani menjawab: “Ya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?”

Al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?”

Al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?”

Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ahnya siapa di antara qira’ah yang tujuh?”

Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.”

Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?”

Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”

Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wata’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang dating dari Nabi Saw. secara mutawatir.”

Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab asy-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam asy-Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepada Anda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindah-pindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya. Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?”

Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?”

Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.”

Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.”

Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ah Tuhaddid asy-Syari’at al-Islamiyyah. Dialog tersebut menggambarkan, bahwa kaum Wahhabi melarang umat Islam mengikuti madzhab tertentu dalam bidang fiqih. Tetapi ajakan tersebut, sebenarnya upaya licik mereka agar umat Islam mengikuti madzhab yang mereka buat sendiri. Tentu saja mengikuti madzhab para ulama salaf, lebih menenteramkan bagi kaum Muslimin. Keilmuan, ketulusan dan keshalehan ulama salaf jelas diyakini melebihi orang-orang sesudah mereka.

Kebanyakan berita-berita buruk mengenai Syaikh Muhammad Said Al-Buthy sengaja disebarkan oleh kelompok Wahabi' lewat media-media mereka termasuk website spt Arrahmah, voa-Islam dll.

Sebenarnya mereka telah punya dendam lama thd Syaikh Muhammad Said Al-Buthy jauh sebelum terjadinya konfik Suriah, karena Syaikh Muhammad Said Al-Buthy dikenal sebagai Ulama yang memegang teguh faham Ahlussunnah wal jama'ah. Syaikh Muhammad Said Al-Buthy juga byk mengkritisi faham 'Wahabi', karena itulah kelompok wahabi yang menyimapn dendam memanfaatkan konflik Suriah ini untuk menyerang Syaikh Muhammad Said Al-Buthy dimana tujuan tersembunyinya ialah agar ummat ('awam) menghindari karya-karya, buku-buku dan peninggalan ilmu-ilmu beliau yang menyebarkan faham Ahlussunnah wal jama'ah sehingga faham wahabi akan semakin bebas.

9 komentar:

  1. Fitnah kaum sufi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini berita juga tidak jelas sumbernya. Karena, mereka belum kenal siapa Syaikh Al-Albani, seandainya mereka tahu kalau dia adalah ulama besar dan sangat faham terhadap ilmu hadits. Kita doakan saja, agar mereka yang menghina diberikan oleh Allah hidayahNya.

      Hapus
  2. Debat tu Said Ramadan berlagak macam seorang guru yang menyerang albani macam seorang murid sekolah menengah! Albani jawab sebaris macam tak konfiden tapi albuti berleter panjang lebar, ha! ha! Ini Skrip NUk Keller saudara. Baca buku buku albani, ratusan buah, kalau nak tahu ilmunya!

    BalasHapus
  3. Taufik Fathoni8 April 2014 05.27

    Kalau mau membela Albani, mestinya bantu beliau dengan argumentasi bahwa, setiap orang memang dibenarkan untuk melakukan ijtihad, seolah setiap orang memiliki ilmu agama yang mumpuni sebagaimana para imam mujtahid. Bukan cuma bilang, "Fitnah kaum sufi," atau menyuruh orang untuk baca buku2 karya Albani, itu ngawur dan tidak relevan dengan konteks artikel yg dikomentari.

    BalasHapus
  4. kalau manusia tahu kebenaran mengapapa kita harus berbeda

    BalasHapus
  5. fanatik itu membenarkan yang kita suka
    dan menganggap salah yang kita benci
    sufi wahabi dll itu selera jadi nggak usah ribut

    BalasHapus
  6. Intinya, jika ada dalil dari Al-Qur'an dan Hadits Shohih, maka kewajiban kita hanyalah mengikuti Rasulullah, sudah titik. Tidak usah bicara begini & begitu, intinya laksanakan amal kebaikan apapun jika memang ada syari'atnya dari sumber Al-Qur'an dan Hadits Shohih.

    BalasHapus
  7. LAKUKAN DAN YAKINI APA YANG MENURUT ANDA PALING BENAR. TAPI HOMATI JUGA PENDAPAT ORANG LAIN, MASALAH TIMBUL KARENA MENYALAHKANORANG LAIN. KALAU FANATIK ITU BAGUS ASAL JANGAN PAKSAKAN PADA ORANG LAIN, KARENA BISA MENIMBULKAN PERTIKAIAN DAN PERTUMPAHAN DARAH.

    BalasHapus

Please be kind and polite to comment, et Merci pour commenter... :D