"Lailaa.. Lailaa.. Lailaa...

It's about having my mind busy with you
and no one else..."

Dialektika Ketuhanan Dalam Kacamata Neurosains


Berbicara mengenai 'para pencari tuhan' tentunya tak terlepas dari 'tag' Atheis, Theis, dan Agnostik . Tidak dapat dipastikan secara tepat seberapa tua usia faham atheisme dalam sejarah kehidupan spiritual manusia. Tradisi Bhudiisme yang lebih dari dua setengah millenia tidak menyebut dalam literaturnya menyinggung tentang sang pencipta, boleh jadi berawal dari ide ketiadaan Tuhan.

Terlepas dari debat klasik yang saling menihilkan antara ateisme dan theisme dalam premis kesalahan logika berfikir 'argumentum ad ignorantiam' atau menerima sebuah argumen karena tidak dapat dibuktikan salah, maupun sebaliknya, menolak karena tidak dapat dibuktikan benar. Beralih pada ‘reductio ad absurdum'. Abad 21 telah membuka tabir baru dalam diskursus tentang ketuhanan.

Dalam bidang neurologi, sains empiris dan skeptisisme sebagai jargon yang diusung kaum atheis saat ini dihadapkan pada hasil riset terbaru,  secara efektif merupakan jembatan penembus 'God of The Gaps' dan melahirkan dua disiplin baru, neurosains spiritual serta  neuroteologi.

Berkaitan dengan ini telah dilakukan banyak eksperimen, tiga diantaranya,

1. kondisi rasa gembira maupun sedih, berbeda dengan marah atau takut, sangat kompleks dan berkaitan dengan lusinan area otak, sebagai contoh:
Bentuk emosi kesedihan dan kegembiraan menjadi masalah mendasar. Depresi dan mania (antusias yang berlebihan) menjadi objek menarik dalam studi para ahli syaraf. Mereka mencatat aktifitas maya dalam tiap bagian otak. Tahun 2007 Drs. Peter J. Frees dan J. John Mann, yang mempublikasikan literatur bertema ‘kesedihan dan otak’ di The American Journal of Psychiatry melaporkan, dalam 22 penelitian, pemindaian otak dilakukan pada relawan nondepresi tetapi lebih ditekankan kepada rasa kesedihan. Kesedihan umumnya diperkenalkan melalui visualisasi gambar atau film yang merepresentasikan kesedihan, juga diminta untuk mengingat peristiwa sedih. Sementara, dalam beberapa studi selanjutnya, beberapa subjek mengalami kegagalan. Dalam agregatnya, kesedihan muncul sebagai penyebab perubahan aktifitas pada lebih dari 70 bagian otak yang berbeda. Amygdala dan hippocampus termasuk dalam daftar ini, seperti yang terdapat pada belahan depan otak (prefrontal cortex) dan area sekitarnya (anterior cingulate cortex). Begitu pula muncul pada struktur yang disebut insula (bermakna: island, pulau) –yaitu area kecil dalam korteks di bawah temporal lobe yang menerjemahkan persepsi dan indera pengecap.

Dapat disimpulkan bahwa aktifitas dalam otak bukan berasal dari otak secara mandiri. Lebih dari itu, penemuan ini membuktikan masalah dualisme ‘akal-tubuh’, seperti pernah dicetuskan filosof Rene Descartes, yang berpendapat bahwa fikiran berhubungan dengan tubuh, namun saling terpisah. Dimana akal adalah non materi, tidak bersandar pada suatu yang fisikal.

"tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dialah yang memegang ubun- ubunnya" (QS. Huud, 11: 56)

Bukan suatu yang amat menakjubkan dalam dunia Filsafat Kesadaran, menurut tradisi abrahamik (monotheisme), kemahaarifan yang transenden terejawantahkan dalam diri manusia dalam akal budinya. Kita semua memiliki definisi berbeda atas suatu hal, termasuk metode dalam mengatasi dan toleransi terhadap rasa senang atau sedih. Imam sya’roni bahagia dalam derita hidupnya. Contoh nyata sebuah manifestasi rasa syukur seorang hamba akan nikmat tuhannya.

2. Seorang kolega penulis The God Delusion (Richard Dawkins), Sam Harris, mencoba untuk mempelajari “kepercayaan” vs. “keingkaran”. Menemukan:

Awal tahun ini dalam Annals of Neurology, sebuah artikel yang dipublikasikan Sam Harris dan kawan-kawan menjelaskan yang terjadi dalam otak ketika seseorang mengaktualisasi sikap percaya atau tidak percaya/ingkar.  Dalam kelanjutan editorialnya, Oliver sachs dan Joy Hirsch menggarisbawahi penemuan penting para peneliti. Impuls-impuls percaya dan ingkar aktif pada bagian-bagian yang berbeda dalam otak. Namun didalam otak, semua reaksi percaya terlihat sama, meski stimulusnya relatif netral: penjumlahan seperti (2+6)+8=16, atau secara emosional terakuisisi: “Wujud Tuhan eksis, seperti yang dideskripsikan kitab suci.”

Pengalaman spiritual sebelumnya diduga hanya terkait dengan aktifitas emosional saja. Pada kenyataannya, sikap percaya dipengaruhi logika berfikir yang kritis. Al-Qur'an telah menyatakan dalam QS. Ath Thalaaq 65:1, "…maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang yang mempunyai akal; (yaitu) orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepadamu."

Kerumitan aktifitas emosional-logikal dalam otak sekaligus menampik klaim-klaim sebelumnya tentang impuls yang timbul sekedar 'tegangan' listrik yang dikontrol oleh otak.

3. Michael Craig Miller, M.D. dalam artikelnya pada 13 September 2008 menyatakan " Seratus milyar sel syaraf terdapat dalam otak, menerima atau memberi, tidak satupun darinya memiliki kemampuan (kapasitas) merasa atau berfikir, bersama-sama membangun kesadaran."

Jika hal ini benar, sungguh ajaib sekali. Pertanyaan terbesar yang menghubungkan sains mengenai otak dengan teologi adalah: dapatkah seting sebuah mesin menjadikannya memiliki intelejensi dan kesadaran sekaligus, dan berkaitan dangan keberadaan manusia, mempunyai pengalaman spiritual?

Pendapat Miller ini seperti berasumsi bahwa ada orang-orang kecil dalam seperangkat televisi berakting pada sebuah program acara. Padahal televisi hanya menerima dan mengolah sinyal. Tentunya jika anda tidak mempercayai eksistensi sinyal, andapun akan berasumsi perangkat ini menghasilkan orang-orang kecil. Dengan demikian, maka klaim artikel ini gugur dengan sendirinya. Sel syaraf otak tidak membangun kesadaran, namun memfasilitasinya.

"Man arofa nafsahu, arofa rabbahu." 


2 komentar:

  1. salam sahabat
    kalau menurut saya dialetika ini sangat beragam cara pandangnya ini juga berpebgaruh terhadap kepercayaan,oh iya dah saya follow maaf telat

    BalasHapus

Please be kind and polite to comment, et Merci pour commenter... :D